Fiqih

Aqiqah dan Qurban, Mana Dulu?

Aqiqah Dan Qurban, Mana Dulu Sich?

Aqiqah dan Qurban, Mana Dulu Sich?

Aqiqah dan qurban, mana dulu sich? mungkin kalimat dan pertanyaan ini yang sering hinggap di benak kita sebagai seorang muslim. Keduanya merupakan perintah dalam islam untuk dilaksanakan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih banyak dari kaum muslimin yang belum paham akan hukum syari’at yang mengatur ini. Pada kesempatan ini, kami akan coba mengupas tentang kedua syariat yang sepintas sama namun berbeda ini.

Qurban

Salah satu amalan besar yang ada dalam bulan Dzhulhijjah adalah adanya syariat penyembelihan hewan qurban, tentunya selain adanya agenda besar rangkaian ibadah haji yang dilaksanakan di kota Mekkah Al Mukarromah sana. Motivasi qurban ini sangatlah kuat karena memang islam memerintahkannya, perintah ini dipahamai oleh mayoritas ulama sebagai sebuah kesunnahan yang levelnya berada diatas sunnah-sunnah lainnya (sunnah muakkadah), walaupun dan bahkan ulama dari madzhab Hanafi menyatakan hukumnya wajib bagi yang mampu melaksanakan. Mayoritas ulama berpendapat, akikah maupun kurban hukumnya sunah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Untuk qurban diperintahkan bagi kita (sebagai umat muslim) untuk menyembelih hewan qurban seperti kambing, domba, sapi, kerbau maupun unta. Adapun jumlah hewan qurban yang disyariatkan adalah 1 orang qurban dengan 1 ekor domba atau kambing, 7 orang berqurban(patungan) dengan 1 ekor sapi, serta 10 orang berqurban(patungan) dengan 1 ekor unta. Adapun pelaksanaan penyembelihan hewan qurban ini jatuh pada hari iedul adha atau tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender islam/hijriyah dan 3 hari setelahnya atau dikenal dengan hari tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah).

Aqiqah

Aqiqah adalah salah satu ibadah yang mirip dengan ibadah qurban yaitu menyembelih hewan. Mayoritas ulama meyakini, hukum aqiqah ini statusnya adalah sunnah muakkadah, bukan wajib. Sebenarnya perintah aqiqah untuk menyembelih hewan ini tertuju untuk orang tua si bayi, atau orang yang menafkahi atau bertanggung jawab untuk memberi nafkah bayi tersebut, perintah itu bukan ditujukan untuk bayi itu sendiri.

Jika misal kedepan anak yang terlahir tersebut belum diaqiqahi hingga dia dewasa maka sebenarnya si anak tidak perlu risau,galau apalagi gelisah, karena memang harusnya yang resah itu adalah orang tuanya, karena kesunnahan dibebankan kepada orang tuanya bukan anaknya. Jika dikerjakan orang tuanya yang akan mendapat pahala, namun jika tidakpun insya Allah tidak berdosa, hanya saja ada kebaikan-kebaikan yang terlewatkan yang tidak didapatkan oleh orang tua tersebut.

Lalu jika sudah dewasa, bolehkan si anak yang telah tumbuh dewasa ini beraqiqah atau mengakikahkan dirinya sendiri? Ulasan tentang bab ini insya Allah akan kami kupas dalam artikel kami yang lain dalam bab ini.

Waktu pelaksanaan aqiqah yang sesuai syari’at adalah pada hari ke 7. Didalam hadist lain disebutkan kelipatannya yaitu 14,21 hari setelah bayi dilahirkan bahkan setelah waktu-waktu itupun tidak mengapa dilaksanakan, jika memang orang tua bayi tersebut belum mampu.

Qurban dan Aqiqah, Dimana Bedanya?

Seperti yang sudah disingung pada awal tulisan ini bahwa mayoritas ulama menilai ibadah sembelihan qurban ini hukumnya sunnah muakkadah, bukan ibadah wajib, sama dengan hukum aqiqah yang juga dinilai sebagai sebuah kesunnahan bagi banyak ulama.

Jika aqiqah adalah ibadah sembelihan yang perintahnya ditujukan kepada para orang tua atau bagi dia yang bertanggung jawab atas nafkah bayi yang dilahirkan, maka ibadah sembelihan qurban perintahnya ditujukan kepada siapa saja yang sudah mukallaf dan mempunyai kemampuan untuk berqurban, baik dia adalah orang tua, atau anak dari orang tuanya yang sudah mukallaf, atau dia adalah suami, atau istri, dan seterusnya.

Sedangkan aqiqah adalah sembelihan karena kehadiran bayi bagi orang tuanya, maka qurban adalah sembelihan yang murni untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, walau tanpa kehadiran bayi atau karena hadir nikmat yang lainnya. Ibadah qurban punya waktu tertentu, dimana sembelihan ini dimulai dari hari nahr pada tanggal 10 Dzhulhijjah dan berakhir pada tanggal 13 Dzulhijjah seiring berakhirnya hari tasyriq. Sedangkan aqiqah punya waktu tertentu juga yaitu pada hari ke 7,14,21 atau kelipatannya atau bebas hari ketika anak tersebut sudah menjadi dewasa.

Dari sisi hewan yang disembelih, maka dalam masalah aqiqah lebih kuat anjuran untuk menyembelih kambing, sedangkan untuk qurban dalam pandangan ulama kambing atau domba lebih utama namun dengan sapi juga boleh, jadi dibebaskan mau menyembelih kambing atau sapi, dimana kambing hanya boleh untuk satu orang dan sapi boleh atas nama tujuh orang.

Qurban Tapi Belum Aqiqah?

Disinilah letak pertanyaan yang sering diperbincangkan diluar sana, tersebar obrolan disebagian masyarakat kita, bahwa tidak sah berquban jika belum aqiqah. Dari beberapa penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa dua ibadah ini adalah ibadah yang berbeda walaupun ada kemiripan dalam tataran teknis, terutama dalam hal pemilihan hewan sembelihan, bahkan hampir sama.(Baca : Syarat Hewan Aqiqah dan Qurban) Selebihnya aqiqah itu ibadah tersendiri yang tidak ada hubungannya dengan qurban, sehingga dua ibadah ini tidak seperti ibadah lainnya seperti wudhu dan shalat misalnya, dimana shalat kita tidak sah jika belum berwudhu.

Namun karena kedua ibadah ini hukumnya sama-sama sunnah, sebisa mungkin dua ibadah ini dikerjakan semua, agar kita semua meraih pahala, manfaat dan kebaikan dari dua jenis ibadah ini, walaupun meninggalkan sunnah dalam pandangan ulama fikih tidak berdosa, tapi yang pasti para ulama semua sepakat bahwa meninggalkan ibadah sunnah dapat membuat kita rugi, karena sudah kehilangan momentum untuk meraih pahala dan kebaikan dari Allah ‘Aza wa Jalla.

Sebenarnya dalam kasus ada orang yang mau berqurban dirinya belum aqiqah, maka dia berhak untuk memilih mana yang mau dia dahulukan, boleh memilih untuk diniatkan ber qurban dulu, boleh juga diniatkan untuk aqiqah. Atau bisa juga mendahulukan salah satu misal mendahulukan qurban dengan alasan bahwa waktunya sangat singkat sekali, hanya empat hari saja dalam satu tahun, jika memang kesiapan dana kita pas mendekati hari raya iedul adha. Berbeda dengan aqiqah yang bahkan waktunya bisa kapan saja, mulai dari hari ketujuh, ke empat belas, kedua puluh satu, bahkan sebagian ulama berpendapat sembelihan aqiqah boleh dilakukan walaupun bayi yang dulu lahir kini sudah dewasa. Tetapi ini kembali ke diri masing-masing dari kita, mau qurban dulu boleh, aqiqah dulu juga boleh.

Bolehkah jika Aqiqah dan Qurban digabung?

Rasululloh bersabda dalam sebuah hadist riwayat Muslim dari sahabat Ummu Salamah yang artinya :

“Apabila kalian melihat hilal bulan dzulhijah dan kalian hendak berkurban maka jangan menyentuh rambut dan kukunya.”

Berdasarkan hadist ini, yang terbaik adalah seseorang dapat melaksanakan kedua sunah tersebut bersamaan. Karena kedua hal ini dianjurkan untuk dilaksanakan. Jika tidak mampu untuk melakukan keduanya dan waktu aqiqah berbeda di selain hari kurban, maka sebaiknya mendahulukan yang lebih awal waktu pelaksanaannya. Akan tetapi jika aqiqahnya bertepatan dengan hari raya kurban, dan tidak mampu untuk menyembelih dua ekor kambing untuk aqiqah dan lainnya untuk kurban, maka sebaiknya mengambil pendapat ulama yang membolehkan bisa menggabungkan aqiqah dan kurban. Ini pendapat yang lebih kuat, Allahu a’lam bi Showab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *